20 October 2020 / Renungan Harian

KEINGINAN BERKUASA


media

Bilangan 12:1-9

“Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?” (Bil. 12:8)

Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) mengatakan bahwa keinginan paling kuat dalam diri manusia adalah keinginan berkuasa (will to power). Keinginan berkuasa dinyatakan dengan melakukan berbagai cara. Yang jelas, keinginan berkuasa menunjukkan nafsu bermegah diri.

Dari Kitab Bilangan hari ini, kita membaca kisah Miryam dan Harun yang ingin berkuasa atas umat Israel. LAI memberi judul perikop ini: “Pemberontakan Miryam dan Harun.” Pertanyaannya adalah: terhadap siapa Miryam dan Harun memberontak? Terhadap Musa atau TUHAN? Kitab Bilangan mengungkapkan bahwa Miryam dan Harun merasa diri seperti Musa, punya kuasa menyampaikan firman TUHAN. Mereka membicarakan Musa dan berpikir TUHAN berkenan kepada mereka juga. Tentang perilaku mereka itu TUHAN menegaskan, Dialah yang menentukan seseorang sebagai perantara-Nya. Dalam hal ini, TUHAN memilih Musa, seorang yang dipandang setia. Pada akhir kisah, penulis Bilangan menunjukkan, keinginan berkuasa pada gilirannya berakibat fatal, yakni murka TUHAN.

Jadi, berhati-hatilah dengan keinginan berkuasa. Apakah motivasi kita sebenarnya ketika ingin meraih kekuasaan? Kekuasaan seharusnya diperlakukan sebagai alat untuk berbagi berkat kepada sesama, bukan sebagai tujuan yang membawa mudarat bagi sesama. Bagaimanapun kita seharusnya takut akan TUHAN. Dialah yang empunya kerajaan, kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

DOA:

Ya Allah, ingatkan dan sadarkanlah aku ketika keinginan berkuasa memenuhi diriku. Kiranya aku hidup sesuai kehendak-Mu. Amin.

Mzm. 63:1-8; Bil. 12:1-9; Why. 18:21-24

Latest ARTICLE