08 October 2021 / Renungan Harian

MENDENGARKAN DAN TAAT


media

Ibrani 4:1-11

Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga. (Ibr. 4:11)

“Saya memang seperti ini adanya.” Ungkapan ini bisa jadi adalah ungkapan jujur akan keberadaan diri, atau keunikan kita. Namun, pernyataan ini, bisa juga bermakna lain. Yakni, sebuah pernyataan keengganan atau ketidakmauan untuk belajar dan berubah. Kita tidak mau belajar dan berubah karena kita merasa bahwa memang demikianlah adanya kita.

Mendengarkan suara Allah dan menaati-Nya harus dilakukan oleh umat, sebab ketaataan merupakan jalan masuk ke tempat perhentian yang disediakan Allah. Demikian penulis surat Ibrani menasihati umat. Ia lantas mengingatkan bahwa ketidaktaatan memiliki konsekuensi. Ia memberi contoh nenek moyang Israel. Dahulu, nenek moyang Israel melakukan ketidaktaatan, dan bahkan mencobai Allah ketika berada di padang gurun. Akibat ketidaktaatan itu, nenek moyang Israel pun tidak dapat masuk ke tempat perhentian yang dijanjikan Allah. Hal ini haruslah menjadi perhatian, peringatan dan pelajaran bagi umat agar mereka tidak melakukan hal yang sama seperti nenek moyang mereka. Sebab, jika demikian, mereka pun tidak akan dapat masuk ke dalam tempat perhentian yang disediakan Allah.

Mendengarkan dan menaati Allah, memang bukan hal yang mudah. Sebab, kita harus menundukkan diri dan melepaskan keakuan kita. Tetapi, betapapun berat, kita harus belajar, berusaha dan berjuang untuk mendengarkan dan menaati Allah. Seperti umat Allah dahulu, kita juga diingatkan untuk tidak mengeraskan hati dan mencobai Allah, melainkan sedia mendengar dan menaati-Nya. Sehingga kita pun dapat memasuki dan menikmati tempat perhentian yang telah Allah sediakan bagi kita, yakni kehidupan kekal bersama Dia.

DOA:

Ya Allah, mampukanlah kami untuk mendengarkan dan menaati suara-Mu dalam kehidupan kami. Amin.

Mzm. 22:2-16; Ayb. 18:1-21; Ibr. 4:1-11

Latest ARTICLE