07 May 2020 / Berita Sukita Terkini

Perlukah Bertani di Masa Pandemi


media

[Belajar dari GKI Banyuwangi ]

Kita tahu bahwa Pandemi Covid-19 bukan hanya masalah kesehatan. Pandemi ini juga sangat berdampak pada perekonomian masyarakat. Salah satu sektor yang diprediksi perlu mendapat perhatian serius saat ini dan paska Pandemi Covid-19 adalah isu ketahanan pangan. Oleh karenanya perlu dipikirkan berbagai langkah alternatif untuk menghadapi ketahanan pangan. Barangkali krisis ini justru mengajak kita belajar keahlian baru, yaitu bercocok tanam dengan mengoptimalkan lahan di lingkungan tempat tinggal kita sendiri. Salah satunya seperti apa yang telah dilakukan oleh Pnt. Petrus Bimo, seorang Calon Pendeta dari Bumi Blambangan (red: sebutan untuk Banyuwangi). Saat ini, Pnt. Petrus Bimo sedang menjalani masa orientasi di GKI Banyuwangi. Calon Pendeta yang juga gemar sepak bola ini telah memanfatkan lahan di pastori yang masih satu area dengan gedung gereja GKI Banyuwangi untuk bercocok tanam. Berikut ini adalah catatan berdasarkan wawancara jarak jauh dengan Pnt. Petrus Bimo.

Mengapa ingin bercocok tanam dan siapa saja yang terlibat?

Ide menanam bukan keluar dari saya. Sejak dulu, lahan pastori memang sudah biasa dijadikan tempat bercocok tanam. Apa saja pernah ditanam, seperti Sengon, Buah Naga, Pisang, dsb. Sejak saya datang lahan memang tidak ditanami, ada rencana untuk mengelola tp belum dilaksanakan karena terkendala berbagai hal. Dalam beberapa bulan terakhir, sebelum pandemi Covid-19, ada ide dari jemaat untuk melakukan kebersamaan setelah PA (Pemahaman Alkitab) dengan pesta hasil kebun. Itulah pertama kali lahan di Pastori ditanami sayur-mayur. Mereka yang sering saya lihat mengurus kebun adalah Pak Nono (Koster gereja), ibu Kurniati (istri Pak Nono) dan ibu Agustin (ibu saya).

Itulah alasan lahan di Pastori ditanami sayur-mayur dan mereka yang terlibat mengurus tanaman.

Apa saja yang ditanam dan  metode apa yang digunakan?

Pertama kali yang ditanam hanya tiga macam, yaitu Kangkung, Kacang Panjang, Kemangi. Saat ini lebih banyak lagi yang ditanam, yaitu Kangkung, Bayam, Kemangi, Buncis, Terong, Tomat, Cabai, Singkong. Semua tanaman itu ditanam dengan metode tradisional saja, ditanam langsung ditanah. Metode yang sudah dipahami oleh Pak Nono, dulu dia pernah bekerja di kebun. Yang jelas tidak pakai pestisida. Jadi semua organik.

Bagaimana dengan respon jemaat?

Tentu jemaat senang karena kalau panen bisa menikmati hasil sayur-mayur segar tanpa pestisida (organik) dan memetik langsung sebelum diolah di rumah masing-masing atau diolah bersama (tapi itu dulu, sebelum pandemi Covid-19). Kalau yang ditanya respon jemaat untuk terlibat mengelola, belum tampak minat jemaat untuk terlibat mengelola. Mungkin dalam masa-masa pandemi ini akan muncul minat jemaat untuk terlibat mengelola. Sebab jika ditekuni, menanam sayuran bisa menjadi pemasukan yang baik sekaligus memenuhi kebutuhan hidup. Bukankah saat ini semua orang merasakan dampak ekonomi akibat pandemi?

Hasilnya seperti apa dan bisa dinikmati oleh siapa?

Kami bersyukur karena tanah di Pastori subur, sehingga hasilnya sangat baik dan berlimpah. Setiap jemaat yang ingin, boleh memetik untuk kebutuhan hariannya (artinya hasilnya bisa dinikmati oleh siapa saja, termasuk beberapa tetangga). Sejak panen hari pertama, biasanya sekitar dua minggu baru panen selesai (dipanen sesuai kebutuhan harian jemaat yang mau, jadi bukan satu kali panen).

Dalam pandangan saya terkait kegiatan berkebun

Melihat perkembangannya saat ini, kegiatan ini ternyata membawa dampak yang baik, justru untuk mereka yang bukan jemaat GKI Banyuwangi, terlebih dalam masa pandemi. Banyak yang mengira GKI Banyuwangi bergerak dalam hal perkebunan dalam masa pandemi. bukan. Kegiatan berkebun sudah dilakukan sebelum masa pandemi, namun dampak dan manfaatnya sungguh terasa pada masa-masa ini.

Artinya, menjadi berkat itu jangan tunggu masa sulit atau terdesak situasi, melainkan lakukanlah apa yang bisa dilakukan. Apapun itu. Kalau dilakukan dengan sukacita maka Tuhan akan mengubah hal itu menjadi berkat bagi banyak orang.

Saya, bukanlah orang yang mengusulkan kegiatan berkebun di GKI Banyuwangi, saya hanya orang yang menceritakan kepada mereka yang ingin tahu, apa yang dilakukan segelintir anggota jemaat dalam memanfaatkan lahan yang ada. Semoga semakin banyak jemaat GKI Banyuwangi yang tertarik untuk terlibat, semakin banyak pihak yang mendukung kegiatan ini dan dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

Terimakasih atas waktunya. Semoga cerita ini dapat menginspirasi setiap jemaat di manapun berada dan tentunya GKI Banyuwangi semakin dimampukan untuk menjadi berkat bagi masyarakat di sekitar gereja.