Markus 1:29-39
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Mrk. 1:35)
Mengapa Tuhan Yesus perlu pergi ke tempat sunyi ketika Ia berdoa? Bukankah, untuk sebagian orang, kesunyian itu menakutkan? Mereka merasa takut karena kesunyian itu identik dengan kesendirian. Kesunyian itu berati tanpa kawan, tanpa kehadiran, yang ada hanyalah kesendirian. Namun, mengapa justru alam sunyi yang dimasuki Tuhan Yesus ketika berdoa?
Berdoa adalah kesempatan bagi jiwa bertemu dengan Allah. Berdoa adalah momen penting karena jiwa bisa bercakap-cakap dengan Tuhannya. Dalam alam sunyilah, Allah lebih memungkinkan untuk disapa. Sekalipun hal itu tetap tidak mudah, itu jauh lebih mudah ketimbang harus menghampiri Allah dalam badai dan gelombang atau api yang dahsyat. Mengingat, tak mungkin manusia mampu berhadap-hadapan dengan Allah ketika berada di tengah kedahsyatan badai hingga gelombang api yang menghanguskan. Itulah mengapa Tuhan Yesus memberi teladan yang paling mungkin, yaitu berdoa dalam alam sunyi. Maka, tiap kali kita hendak berdoa, keheningan menjadi penting untuk diciptakan.
Sejatinya kesunyian bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dicintai. Kesunyian menjadi medan yang memungkinkan kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Dalam kesunyian, ada cinta Tuhan yang menunggu setiap jiwa yang mau datang kepada-Nya. Sekarang, seberapa mendalam kita mencintai alam sunyi untuk berdoa?
DOA:
Tuhan, kami ingin berjumpa dengan-Mu di dalam keheningan. Amin.
Yes. 40:21-31; Mzm. 147:1-11, 20c; 1Kor. 9:16-23; Mrk. 1:29-39