Lukas 24:44-53
Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. (Luk. 24:45)
Jika kita memakai kacamata hitam, maka semua yang ada di depan mata kita akan tampak berwarna hitam juga. Seperti itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus setelah peristiwa kematian-Nya. Meskipun Yesus telah bangkit dan menemui murid-murid-Nya, namun mereka ternyata masih belum melepaskan “kacamata hitam” mereka. Para murid dirundung kesedihan dan ketakutan; bagi mereka segalanya tampak gelap.
Situasi semacam itu terjadi karena murid-murid berharap Yesus menjadi Mesias yang penuh kuasa, memiliki kemuliaan dan kejayaan duniawi, sama seperti para penguasa dunia lainnya. Jika hal itu terpenuhi, maka mereka bisa beriman kepada Yesus. Tetapi sebaliknya, ketika perkara-perkara semacam itu tidak terpenuhi, maka runtuhlah iman mereka. Bahkan, peristiwa kebangkitan Kristus belum cukup menguatkan mereka.
Yesus merasa perlu membuka pikiran murid-murid-Nya. Ia ingin mendidik murid-murid-Nya bahwa iman tidak boleh dilandaskan pada pengharapan akan perkara-perkara duniawi yang fana, tetapi pada misi Yesus untuk menghadirkan karya penyelamatan Allah di dunia. Singkatnya, kita beriman kepada Yesus, bukan supaya kita mendapatkan kemuliaan duniawi sebagaimana kita bayangkan, tetapi supaya kita bisa ikut serta dalam karya penyelamatan Allah di dunia ini. Itu sebabnya Yesus mengingatkan kita bahwa, “Berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa (ay. 47).”
REFLEKSI: Jika pikiran kita sudah dibuka oleh Kristus, maka kita tahu bahwa misi kita di dunia ini adalah untuk menghadirkan kerajaan-Nya.
Kis. 1:1-11; Mzm. 47 ; Ef. 1:15-23; Luk. 24:44-53