18 September 2019 / Renungan Harian

BUKAN HANYA KATA-KATA, TETAPI AKSI NYATA


media

Lukas 22:31-33, 54-62

Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Luk. 22:33)

Menurut sejarah Gereja, pada abad II, hiduplah di kota Antiokhia seorang perempuan muda bernama Theodora. Ia adalah seorang pengikut Kristus yang menentang penyembahan kaisar dan dewa-dewi Romawi. Theodora ditangkap dan diadili Gubernur Antiokhia. Ia dipaksa untuk meninggalkan iman kepada Tuhan Yesus, tetapi ia menolak tegas. Theodora menyatakan Kristus sebagai satu-satunya yang patut disembah. Bukan hanya kata-kata yang dinyatakan Theodora tentang imannya kepada Tuhan, tetapi juga perbuatan nyata. Demi dan dalam iman, Theodora disiksa dan akhirnya dihukum mati.

Di hadapan Yesus, dengan tegas Petrus menyatakan kata-kata hebat, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Bukannya merasa senang, Yesus malah menegaskan bahwa Petrus akan mengingkari pernyataannya itu. Ketika situasi sulit dan bahaya terjadi, Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Setelah penyangkalan terjadi, Yesus pun berpaling memandang Petrus. Tatapan Yesus itu membuat Petrus sedih. Itulah tatapan yang mengingatkan kelemahan diri Petrus. Namun, itulah juga tatapan kasih yang memberi Petrus kesempatan untuk bertobat dan menjadi kuat.

Mengikut Yesus dengan setia memang bukan perkara mudah. Tidak hanya kata-kata, tetapi juga aksi nyata seharusnya dilakukan. Belajar dari Petrus dan Theodora, kita berusaha untuk berkata-kata dengan sadar diri. Kita mengungkapkan kata-kata bukan hanya yang jadi luapan emosi belaka, tetapi yang sungguh jadi nyata.

REFLEKSI: Kata-kata yang terucap tentang iman kepada Tuhan, jika tanpa aksi yang nyata, hanya menunjukkan sebuah kelemahan diri.

Mzm. 73; Ayb. 40:1-9; 42:1-6; Luk. 22:31-33, 54-62

Latest ARTICLE