07 December 2019 / Renungan Harian

BUNGA


media

Yesaya 40:1-11

“Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.” (Yes. 40:7)

Di gereja kami, bunga mimbar sering kali adalah bunga asli, bunga hidup. Bunga-bunga itu dibeli di pasar Rawabelong, lalu dirangkai oleh tim dekorasi gereja. Sebuah busa berair ditaruh di bagian bawah rangkaian, agar bunga-bunga itu tetap segar sampai hari Minggu sore. Ada bunga yang tetap segar selama seminggu, tetapi rata-rata bunga itu akan mulai layu setelah 2-3 hari. Seindah apa pun bunga-bunga yang ada, kemudian akan menjadi layu dan harus dibuang.

Bagian kitab Yesaya ini menyerukan keselamatan untuk bangsa Israel yang berada dalam pembuangan. Penderitaan akan berakhir, kesalahan diampuni, hukuman telah cukup menjadi pelajaran. Karena itu, umat agar menyerukan keselamatan yang datang dari Tuhan, di mana Tuhan seperti seorang gembala yang menuntun umat. Dalam seruan ini, Israel diingatkan bahwa hidup manusia bagaikan rumput dan bunga yang sebentar saja. Firman Allahlah yang kekal.

Sehebat apa pun kehidupan seseorang, semuanya hanya sementara. Mungkin kita berjaya, sukses, memiliki banyak harta, terkenal, tetapi jika semuanya kita raih di luar Tuhan maka sia-sialah. Hidup kita bagaikan rumput dan bunga yang semaraknya hanya sebentar. Jika Tuhan menghembuskan angin maka semua kehebatan itu berakhir. Maka, dalam hidup yang fana ini, mari kita bergantung kepada yang kekal, yaitu firman Allah. Peganglah dan lakukanlah firman-Nya di dalam hidup kita sehari-hari.

DOA: Tuhan, jadikan hidup kami ini berarti, sekalipun hidup ini sementara. Amin.

Mzm. 72:1-7, 18-19; Yes. 40:1-11; Yoh. 1:19-28

Latest ARTICLE