IA TIDAK MATI GAYA
Mazmur 66:1-9
Ia mengubah laut menjadi tanah kering, dan orang-orang itu berjalan kaki menyeberangi sungai. Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia …. (Mzm. 66:6)
“Bagaimana kita bisa mengalami Allah sebagai jalan keluar, jikalau kita sendiri tidak pernah berada di dalam kebuntuan?” Ungkapan ini sudah sedemikian populer. Manusia diingatkan dan diajak untuk tidak mematikan iman tatkala mereka sudah mati langkah. Iman memberikan harapan bagi manusia untuk terus bertahan.
Bangsa Israel dalam sejarah mengalami yang namanya kebuntuan. Ketika mereka keluar dari Mesir, langkah mereka terhenti. Maju berarti ditelan oleh ganasnya lautan. Mundur, sama dengan menyerahkan diri ke dalam tangan tentara Firaun. Benar-benar buntu! Pengalaman inilah yang diangkat oleh pemazmur. Menurutnya, tepat dalam kebuntuan itulah Israel menemukan jalan keluar. Allah mengubah laut menjadi tanah kering. Artinya, Allah menolong mereka berjalan di tengah-tengah bahaya dan ancaman. Jikalau mereka bisa lolos dan hidup sebagai sebuah bangsa, itu semata-mata adalah kasih karunia Tuhan. Karena itu, pemazmur memuji Allah dan mempersaksikan kasih Allah bagi bangsa-bangsa. Bagi pemazmur, Allah itu dahsyat!
Kasih dan kedahsyatan Allah kita alami juga dalam hidup sehari-hari. Saat kita mati langkah, Allah tidak pernah mati gaya dalam menolong kita. Ia selalu punya cara, mulai dari yang biasa, sampai yang luar biasa yang tak pernah habis kita cerna dengan logika. Kasih Allah itulah yang terus menguatkan dan meyakinkan kita bahwa esok masih ada.
REFLEKSI:
Manusia bisa mempunyai seribu alasan untuk menyangkali kasih Tuhan, namun Dia tidak memiliki satu pun alasan untuk tidak mengasihi kita.
Mzm. 66:1-9; Yer. 51:47-58; 2Kor. 8:1-7