KASIH YANG RADIKAL
1 Yohanes 3:11-18
Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya … bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? (1Yoh. 3:17)
Kisah putus hubungan persaudaraan lantaran kisruh pembagian harta warisan bukanlah hal baru. Kita mungkin pernah melihat tetangga, sesama warga jemaat, atau bahkan anggota keluarga kita sendiri yang ribut karena warisan. Miris! Ternyata, harta atau materi lebih berharga dari hubungan persaudaraan.
Penulis surat Yohanes mengajukan pertanyaan kepada orang-orang yang mementingkan materi lebih daripada hubungan kasih persaudaraan. Bagaimana kasih Allah dapat menetap dalam diri orang-orang yang materialistis itu? Apa pun yang terjadi, manusia dan persaudaraan selalu lebih penting daripada materi. Karena itu, penulis mengajak jemaat untuk mengasihi dengan kesungguhan, bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan, seperti Yesus mengasihi dengan tulus, tidak memikirkan diri sendiri, melainkan menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, saudara/saudari-Nya. Inilah kasih yang radikal, tidak memikirkan untung atau rugi. Kasih ini semata-mata memberi, dan ia menjadi tanda dari menetapnya kasih tulus Allah di dalam diri.
Firman ini mengajak kita merespons peristiwa negatif seperti pertengkaran karena harta warisan di atas dengan kasih yang radikal. Harta tidak akan pernah mengantarkan kita sampai ke kuburan. Saudara-saudara kita, bahkan orang yang tidak kita kenal yang akan melakukannya. Karena itu, relasi kasih harus kita pupuk dan utamakan selama hidup di dunia yang fana ini. Biarkan harta itu yang melayani persaudaraan kita.
REFLEKSI:
Jangan pernah menakar hubungan persaudaraan dengan uang, sebab uang tidak pernah mampu membeli kasih sejati seorang saudara.
Mzm. 25:11-20; Ams. 19:1-17; 1Yoh. 3:11-17