(1Raj.21:7)
">
1 Raja-raja 21:1-16
Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel?" (1Raj.21:7)
Banyak orang mendambakan kekuasaan. Mereka berjuang keras dan saling menjatuhkan demi memperoleh kekuasaan. Mereka rela mengeluarkan uang, tenaga, dan waktu untuk memperoleh kekuasaan. Tampaknya ada anggapan bahwa jika mereka memiliki kekuasaan, mereka berhak bertindak apa saja tanpa ada yang menghalangi.
Izebel pun beranggapan demikian. Ketika suaminya, Raja Ahab, ingin memiliki kebun anggur Nabot dan Nabot tidak mau menyerahkannya, Izebel berkata, "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel?" Berdasarkan kekuasaan suaminya, dengan licik dan keji, Izebel merencanakan dan memerintahkan pembunuhan atas Nabot. Pada awalnya semua berjalan mulus. Akan tetapi, Allah yang Mahatahu tidak tinggal diam. Nasib tragis menanti Ahab. Bisa jadi, motif awal penyalahgunaan kekuasaan tidak datang dari diri sendiri. Seperti kasus Ahab, justru istrinya yang cenderung mendorong suaminya berlaku sewenang-wenang. Pengendalian diri sudah semestinya juga menjadi pengendalian atas kehidupan berumah tangga.
Banyak pejabat negara yang menggunakan wewenang dan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri dengan korupsi. Padahal, kekuasaan itu seharusnya didayagunakan untuk kesejahteraan bersama. Wewenang dan kekuasaan yang kita miliki kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, Sang Pemberi Kuasa.
Refleksi:
Kekuasaan bukan untuk memuaskan ambisi pribadi, melainkan untuk memuliakan nama Tuhan.
Mzm. 119:161-168; 1Raj. 21:1-16; 1Tes. 4:9-12