Roma 8:12-25
Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? (Rm. 8:24)
Petani bawang di Kabupaten Brebes terkenal ulet. Mereka bekerja keras mulai dari menanam benih, memberi pupuk, menyiangi rumput yang ada di sekitar tanaman bawang, sampai memberi obat supaya tidak terserang ulat. Mereka melakukan semua itu karena memiliki pengharapan akan hasil panen yang baik. Semua itu dilakukan dengan sabar untuk meweujudkan harapan mereka.
Setiap orang seharusnya memiliki pengharapan di dalam hidupnya. Apa yang diharapkan memang belum tampak, tetapi orang berpengharapan harus gigih untuk mewujudkan harapan itu.
Hidup manusia tidak melulu diwarnai kebahagiaan. Ada kalanya penderitaan dan kesulitan menimpa. Ketika terjadi kesengsaraan itulah, pengharapan dibutuhkan. Demikian pula halnya dalam mengharapkan datangnya Kerajaan Allah. Setiap orang percaya yang berharap akan penggenapan Kerajaan Allah akan mendapat ketenteraman dan kedamaian dalam hidupnya. Pengharapan yang terarah pada Allah tidak akan mudah digerogoti oleh berbagai bentuk penderitaan dan kesulitan.
Pengharapan memang belum terwujud. Namun, mereka yang memiliki ketetapan hati dan terus mengarahkan diri pada kehendak Allah akan memperoleh wujudnya, yaitu keselamatan. Keselamatan kekal telah tersedia bagi mereka yang tetap teguh dalam pengharapan kepada Allah.
Refleksi:
Pengharapan adalah sauh yang menjadikan kita tetap tegar sekalipun harus menghadapi badai hidup.
Yes. 44:6-8; Mzm. 86:11-17; Rm. 8:12-25; Mat. 13:24-30, 36-43