23 December 2018 / Renungan Harian

Salam Bagimu


media

Salam Bagimu

Lukas 1:39-45

“Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.” (Luk. 1:44)

Sebuah salam akan kita ucapkan ketika kita bertamu ke rumah orang lain. Salam itu berupa sapaan dan pembuka. Tetapi juga, salam itu berupa sebuah kata-kata doa, apakah itu ‘selamat pagi’, ‘selamat malam’, ‘apa kabar’, ‘baik’, dan sebagainya. Seberapa tulusnya kita saat mengucapkan salam kepada orang lain? Atau, saat kita menjawab salam dari orang lain. Bukankah terkadang, hal itu menjadi sekadar basa-basi saja? Padahal, salam adalah doa kita bagi mereka yang mendengarnya. “Selamat,” demikianlah kita biasa menyapa orang lain.

Salam yang Maria ucapkan bukanlah salam basa-basi. Salam Maria menjadi sapaan yang membuat bayi dalam kandungan Elisabet melonjak. Sapaan itu menjadi penegasan bagi pertemuan mereka. Maria dan Elisabet bukan hanya sekadar dua bersaudara yang bertemu, tetapi ada sebuah penegasan mengenai kehadiran Sang Mesias yang saat itu sedang berada dalam kandungan Maria. Elisabet menyadari hal itu, juga bayi dalam kandungannya.

Sebagaimana Maria yang datang memberi salam kepada Elisabet, mari jadikan diri kita juga sebagai para pembawa salam bagi orang-orang lain. Bukan sekadar sapaan basa-basi yang kita ucapkan saat kita bertemu dengan orang lain, keluarga ataupun teman. Mari ucapkan salam yang tulus, yang menjadi doa kita untuk kebaikan orang yang kita temui.


 

DOA:

Berikanlah selalu kepada kami kekuatan-Mu ya Tuhan agar kami teguh dan kuat dalam pengharapan kami. Amin.

Mi. 5:1-4a; Mzm. 80:2-8; Ibr. 10:5-10; Luk. 1:39-45, (46-55)

Latest ARTICLE