21 May 2019 / Renungan Harian

SOLIDARITAS LINTAS BATAS


media

Kisah Para Rasul 11:27-30

Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. (Kis. 11:29)

Aristides (meninggal kr. 133/4 M), seorang tokoh Kristen dari Athena, pernah mengirim surat kepada Kaisar Romawi Hadrianus ketika sang kaisar berkunjung ke Athena pada tahun 125 M. Dalam suratnya tersebut, Aristides memuji-muji orang-orang Kristen karena mereka memperlakukan semua anggota jemaat sebagai sesama manusia yang sederajat dan saling memanggil dengan sebutan “saudara,” sebuah panggilan yang sangat radikal dan provokatif di masa ketika masyarakat masih mempraktikkan perbudakan.

Aristides juga menyatakan dalam suratnya bahwa orang-orang Kristen mengaitkan praktik puasa dengan praktik diakonia. Jika ada orang Kristen yang sangat miskin sehingga tidak mampu membeli makanan, maka orang-orang Kristen lainnya di jemaat tersebut akan berpuasa secara bergiliran agar makanan yang mereka miliki bisa dibagikan kepada saudara-saudaranya yang miskin.

Kesaksian tersebut adalah sebuah kesaksian nyata tentang kehidupan orang-orang Kristen yang saling mengasihi satu dengan yang lain. Kisah Para Rasul 11 bahkan memberi kesaksian bahwa solidaritas tersebut diwujudkan melampaui batas-batas gereja lokal. Jemaat Anthiokia mengumpulkan sumbangan untuk membantu jemaat Yerusalem, karena jemaat Yerusalem terancam bencana kelaparan. Kasih itu bukan saja diamini dan diimani, tetapi juga diamalkan secara konkret lintas batas.

REFLEKSI: Kasih tidak mengenal batas, karena kasih memang dianugerahkan oleh Allah tanpa batas.

Mzm. 133; 2Sam. 1:4-27; Kis. 11:27-30

Latest ARTICLE